Main-main hasilnya bukan main

Main-main hasilnya bukan main

“Nggak perlu terlalu serius ikut trainingnya…, main-main saja tapii hasilnyaa… bukan maeen.. !!” Kata Pak Raden sambil tersenyum. Sebagai pimpinan di bagian SDM suatu Badan Usaha Multi Nasional ,beliau memberi sambutan sebelum acara training dimulai.
Saya (Unyil) dan Cuplis menjadi instruktur pelatihan. Bukan pelatihan SEPIA, tapi Pelatihan Pengembangan Diri . Pelatihan kami berlangsung dengan suasana gembira seperti pesan Pak Raden tadi. Santai tapi serius. Serius tapi santai. Dan tentu saja… main-main tapi hasilnya bukan main!
Bagi saya dan Pak Cuplis, jargon “main-main hasilnya bukan main” adalah jargon yang bukan main-main. Ini konsep dengan filosofis tinggi. Tahukah Anda bahwa banyak hal besar dimulai dengan main-main?
Jerry Yang hanya main-main saja saat mengumpulkan link-link terkait pemain basket NBA, tak dinyana jadi perusahaan besar Yahoo! Larry Page juga hanya main-main saat membuat Page Rank yang kemudian menjadi algoritma rahasia search engine Google. Steve Wozniak sekedar main-main saja membuat komputer rakitan pribadi yang kemudian diberi merek Apple oleh temannya, Steve Jobs. Microsoft pun dimulai dari penawaran main-main jasa program Basic untuk komputer Altair oleh Bill Gates yang baru berusia 17 tahun (Bill Gates dan Paul Allen bahkan belum melihat komputer Altair ketika membuat program demo Basic!).
Demikian pula ketika Bell menciptakan telpon. Dia main-main saja dengan ide menjual musik lewat kabel listrik (tak disangka akan menjadi penemu telpon dan mendirikan AT&T. Alexander Graham Bell hanyalah seorang guru bahasa isyarat bagi siswa tuna rungu). Setelah jadi milyuner, Bell juga main-main bikin pesawat terbang. Perusahaan pesawat itu masih ada hingga kini dengan nama Bell Labs yang biasa membuat pesawat super canggih untuk militer.
Ternyata “main-main” adalah resepnya orang sukses. Tentu saja ini bukanlah ‘main-main’ yang berkonotasi ‘tanpa tanggung jawab’ (ini jenis main-main yang salah), melainkan ‘main-main’ yang berarti ‘melakukan sesuatu dengan kegembiraan bermain’ (ini jenis main-main yang benar!). Melakukan sesuatu dengan ‘menikmati permainan’. Inilah resep orang sukses : main-main yang berpeluang memberi hasil bukan main!
Kapan kita bisa bekerja dengan main-main (yang benar)? Yaitu saat kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Saat kita punya ‘passion’ terhadapnya. Saat kita punya sesuatu ’spiritual’ dalam apa yang kita kerjakan itu (spiritual tidak selalu agama/religi loh. Spiritual adalah yang membuat kita punya spirit/semangat). Jadi kalau Anda mengerjakan sesuatu yang Anda punya ‘passion’, maka Anda akan merasakan kegembiraan ‘main-main’. Sebaliknya jika Anda tidak merasakan kegembiraan ‘main-main’ dalam pekerjaan Anda, berarti Anda sedang mengerjakan sesuatu yang bukan ‘passion’ Anda.

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: