Memilih tanah karir

Film The Pursuit of Happyness diangkat dari kisah nyata Chris Gardner. Sebagai anak dari keluarga miskin yang tak sempat mengenal ayahnya, hidup Gardner tidaklah mudah. Yang menjadi ciri kesamaan Gardner dengan kebanyakan orang sukses adalah kegigihannya (Tekun, Ulet, Gigih).
Salah satu episode menarik dari kehidupan Gardner adalah awal tahun 80-an saat ia mengalami masa paling sulit dalam hidupnya, yaitu ketika bangkrut dan diusir dari apartemen. Istrinya, pergi meninggalkannya untuk bekerja di tempat yang jauh. Gardner ngotot meminta anak lelakinya untuk ikut dengannya. Dia punya trauma masa kecil, yaitu tidak mengenal siapa ayahnya, trauma yang tak ingin dialami oleh anak lelakinya. Gardner yang bangkrut terpaksa hidup di penampungan bersama anaknya. Dia merasakan betapa pedihnya kehidupan para tunawisma. Kelak kemudian hari, setelah Gardner menjadi milyuner, salah satu kegiatan filantropis yang dilakukannya adalah memberikan tempat berlindung bagi para tunawisma.
Titik balik kehidupan dimulai ketika ia berjumpa seseorang yang naik mobil mewah Ferrari. Gardner yang saat itu bekerja keras dan gigih untuk memasarkan mesin scanner tulang yang sulit laku, ingin sekali tahu mengapa orang tersebut hidup nyaman. Orang tersebut menjawab bahwa dia bekerja sebagai pialang saham di perusahaan investasi. Gardner yang pedih dengan nasibnya, ingin mencoba peluang baru bekerja di dunia investasi, walaupun dia tidak punya pengalaman apapun di bidang keuangan.
Melalui usaha keras, Gardner diterima sebagai salah satu dari 20 kandidat yang diberi kesempatan magang di sebuah perusahaan investasi Dean Witter Reynolds. Hanya yang paling top yang akan diterima. Setelah enam bulan melalui masa pelatihan dan ujian yang cukup sulit, Gardner berhasil tampil gemilang dan diterima bekerja di perusahaan tersebut.
Kisah Gardner yang lebih lengkap dapat Anda temukan dengan mudah. Satu kesimpulan yang menarik setelah melihat film itu adalah pentingnya memilih usaha yang memang punya prospek cukup baik untuk menghasilkan uang. Ini bukan masalah kerja keras, juga bukan masalah kerja cerdas. Semula Gardner bekerja keras sebagai sales alat scanner tulang yang mahal sekali dan belum populer. Penjualan alat tersebut lambat. Ketika dia kemudian beralih menjual produk investasi yang ditawarkan kepada orang-orang kaya, ternyata hasilnya jauh berbeda. Menjualnya sama-sama susah, namun hasilnya bagai bumi dengan langit. Gardner berhasil menggaet puluhan klien untuk berinvestasi dengan perusahaan tempatnya bekerja. Penghargaan bagi prestasi ini cukup tinggi.
Sekitar 6 tahun kemudian yaitu tahun 1987 ia mendirikan firma investasi sendiri, yang diberi nama Gardner Rich. Firma ini sukses besar. Pada tahun 2006 dia menjual sebagian kecil saham firmanya dengan nilai jutaan dolar.
Kisah di film mungkin sedikit berbeda dengan kisah nyata. Namun secara garis besar, kepedihan masa sulit Gardner memang merupakan pengalaman yang ia tulis dalam autobiografi yang terbit 2006.
Kisah Gardner membuat saya merenung, terutama mengingat kehidupan orang-orang yang saya kenal. Benarkah mereka belum kaya karena kurang kerja keras? Benarkah belum berhasil karena kurang pintar? Salah satu jawabannya adalah karena mereka bekerja di bidang yang memang sedikit uangnya. Bukan karena perusahaannya tidak menghargai hasil kerja, namun memang tidak punya cukup uang untuk menghargai hasil kerja keras itu. Gardner yang berpindah dari menjual mesin scanner tulang menjadi pialang investasi, ibarat berpindah dari tanah tandus ke tanah yang subur. Kerja kerasnya sama, hasilnya berbeda.
Hmmm… kira-kira tanah saya subur nggak ya?

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: