Tulisan Motivasi (2)

7 TIPS KELOLA KEBOSANAN

 

Salah satu pembunuh produktivitas karyawan di tempat kerja adalah kebosanan. Kebosanan yang berlarut-larut pada akhirnya akan merugikan si pemimpin dan perusahaan itu sendiri. Dibawah ini ada beberapa tips praktis bagi Leader dalam mengelola kebosanan karyawannya.


1. Morning Power
Lakukan di setiap pagi hari dengan bawahan langsung Anda. Morning power bertujuan untuk energizing team Anda. Lakukan maksimal 10 menit dengan menekankan pada komunikasi 2 arah. Dianjurkan untuk melakukannya secara informal, tidak duduk di kursi, tetapi sambil berdiri, sehingga tidak menimbulkan kesan tegang atau terlalu resmi. Saat ini bisa jadi kesempatan untuk bertanya tentang kesulitan yang tidak bisa diatasi karyawan, membangun komunikai dua arah dan menjelaskan prioritas kerja di hari atau minggu ini.

2. Suggestion System
Ciptakan nuansa kerja yang kreatif sehingga tiap karyawan memiliki wadah untuk aktualisasi dirinya. Caranya dengan melalui sistem usulan, wadah tempat para karyawan bisa memberikan ide, aspirasi. Misalnya minta agar tiap karyawan memberikan ide kreatif, membuat suggestioan board atau sistem usulan yang mendapat imbalan.

3. Site-Tour
Secara periodik ajaklah karyawan bagian keuangan untuk mengunjungi departemen produksi untuk memahami tugas-tugas di bagian produksi. Tujuannya selain para karyawan semakin memahami tugas-tugas di departemen lain, kegiatan ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kerja sama antar team serta menekankan kejenuhan rutinitas tugas-tugas.

4. Internal Trainer
Beri kesempatan karyawan yang senior yang memiliki masa kerja yang sudah lama untuk berbagi pengalaman kepada para karyawan yang relatif masih muda dan baru. Beri dia kehormatan untuk menjadi internal trainer. Umumkan di newsletter perusahaan tentang penunjukan ini. Hal ini akan membuat karyawan yang bersangkutan merasa dihargai oleh perusahaan, dan membuat mereka antusias kembali. Apabila si karyawan yang ditunjuk tidak menguasai cara-cara memberikan latihan kepada karyawan, maka ia bisa diberikan pelatihan khusus “Training For The Trainer”

5. Kontes Produktivitas
Rangsang karyawan untuk berlomba-lomba berkreasi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan. Lombakan secara periodik dan beri reward dalam forum resmi perusahaan. Selain akan membawa rasa bangga, si karyawan juga akan tertantang untuk berprestasi terus. Contoh kontes produktifitas antara lain : Cost Saving Contest, Kontes mengurangi tingkat defect produksi, dan lainnya.

6. Musik
Bila memungkinkan, putar musik-musik instrumen dilingkungan kerja. Musik instrumen bermanfaat untuk mengaktifkan otak kanan ( imajinasi & kreativitas ). Musik juga berfungsi untuk relaksasi otak dari rutinitas dan kebosanan. Jangan sampai salah pilih musik yang akan diputar, yang terbaik adalah musik tanpa narasi.

7. Motivational Session
Jadwalkan pemberi motivasi secara korporat setiap minggunya. Misalnya dilakukan setiap hari Rabu jam 8 pagi selama 30 menit. Isi sesi ini dengan berbagai kegiatan yang intinya adalah membangkitkan semangat kerja, contohnya dengan menonton film motivasi yang berdurasi 10 menit, diskusi kelompok.

 

POHON YANG KEHILANGAN ROHNYA

 

Cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lalukan, dengan tujuan supaya pohon itu mati. Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitive ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.   Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini? O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah kita berteriak pada anak kita? Ayo cepat! Dasar leletan! Bego banget sih.. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan…  Ayo, jangan main-main disini. Berisik! Bising!  

Atau, pernahkah kita berteriak kepada orang tua kita karena merasa mereka membuat kita jengkel?

Kenapa sih makan aja berceceran?

Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu?

Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar?   

Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?

Atau, mungkin kitapun berteriak balik kepada pasangan hidup kita karena kita merasa sakit hati?

Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak?! 

Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa!

Aduh.. Perempuan kampungan banget sih?!

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya.

Eh tolol, soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?

Ingatlah, setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?! Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya,  meskipun secara fisik mereka dekat tapi  sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak.

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.

Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik sebagai balasannya. Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita

MODEL KEPEMIMPINAN

Ada seorang pemilik kuda yang memiliki 10 ekor kuda. Tugas-tugas kuda-kuda tersebut adalah membantu si pemilik mengangkut karung-karung hasil pertaniannya pergi ke pasar yang berjarak 70 km dari tanah pertanian. Setiap hari setiap kuda harus mengangkut 50 kg beban di atas punggungnya dan berjalan menempuh jarak 70 km tersebut.

Untuk memastikan kuda-kuda tersebut mampu mengangkut beban sebanyak 50 kg, si pemilik kuda harus merawat setiap kuda dengan baik. Ia harus memastikan kuda sudah mendapatkan makanan terbaik, vitamin yang tepat. Secara berkala tiap kuda harus dimandikan, diberi kesempatan untuk bermain-main. Di waktu-waktu tertentu, si kuda akan diajak berkomunikasi & dibelai-belai. Dan yang tidak kalah pentingnya, kuda-kuda ini juga harus dilatih agar mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.

Apa tujuan si pemilik kuda merawat kuda-kuda sedemikian rincinya? Kenapa ia harus tekun menjalankan proses merawat kudanya setiap hari? Padahal ia bisa saja hanya memberi makan dan menggunakan kuda-kuda itu sebagai pengangkut karung setiap harinya.

Jawabannya sudah jelas, bila si kuda sehat dan terampil, maka si kuda bisa mengangkut beban kerja dari si pemilik. Bila si kuda sakit-sakitan, maka si pemilik harus mengangkut sendiri si kuda. Dan si pemilik sekarang berubah fungsi menjadi kuda !

Ilustrasi di atas identik dengan situasi nyata kerja di dalam perusahaan. Misalnya, seorang Sales Supervisor yang dibebankan target menjual sebesar Rp. 500 juta perbulan dan dipercayakan untuk memiliki 10 orang salesman ( anak buah ). Apabila dibagi rata, maka beban seorang salesman menjadi Rp.50 juta perbulan. Bila diibaratkan para salesman adalah kuda ( untuk mempermudah penjelasan saja ), maka setiap kuda akan menanggung beban Rp.50 juta.

Apa yang menjadi tugas seorang Sales Supervisor agar supaya setiap salesman bisa berhasil mencapai Rp.50 juta setiap bulan? Seperti si pemilik kuda dalam ilustrasi diatas, Sales Supervisor seharusnya mengembangkan, memberdayakan, komunikasi, melatih dan memotivasi para salesmannya. Apa akibatnya bila Sales Supervisor tidak lakukan hal tersebut? Maka dia harus terjun ke lapangan untuk jualan, untuk menutupi kekurangan dari para salesmannya. Berarti si Sales Supervisor akan mengambil alih beban salesmannya.

Dengan kata lain si Sales Supervisor berfungsi menjadi “kuda”, dan dia disebut sebagai pemimpin “cap kuda”. Fungsi Sales Supervisor seharusnya sebagai pengelola kuda, bukan menjadi kudanya. Situasi seperti ini sering dijumpai di dunia kerja yang nyata, banyak pemimpin yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya seorang pemimpin.

Mengapa banyak Leader yang tidak mau mengembangkan anak buahnya? Mengapa banyak Leader yang lebih senang mengambil beban kerja anak buahnya ketimbang disuruh melatih dan memotivasi bawahannya? Mengapa banyak Leader yang berfungsi sebagai “kuda” dan bukannya jadi “pengelola kuda” yang baik? Ada beberapa alasan yaitu :

a. Paradigma “Kalau anak buah saya pintar, nanti posisi saya terancam”
“Kalau saya didik mereka, mereka jadi pintar, dan nanti saya disaingi oleh mereka, bahkan bisa saja terjadi mereka nanti yang dipromosi. Dengan kata lain, dari pada mereka jadi pintar nantinya, lebih baik saya lakukan “proses pembodohan” pada mereka.”

Ini adalah paradigma feodal, paradigma yang lebih suka melihat orang lain “tetap bodoh”. “Dari pada saya tersaingi, lebih saya baik saya jadi kuda saja” adalah pola pikir yang sempit. Pola pikir seperti inilah dan kualitas “kuda” lah yang membuat karirnya tidak pernah akan naik.

“Kan, yang penting targetnya tercapai.” Kilah seperti ini tidak salah, target memang tercapai, tetapi siapa yang melakukan? Si pengelola kuda atau kuda-kudanya? Seorang pemimpin yang berhasil, adalah seorang pemimpin yang bisa membuat para anak buahnya menjadi terampil dalam melaksanakan tugasnya.

b. Pemimpin Model Rambo
Ciri-ciri pemimpin model Rambo adalah :
# Ingin mengerjakan segala sesuatu sendirian.
# Memiliki kepuasan yang tinggi bila bisa melakukan semuanya sendiri dengan sempurna.
# Tidak mudah percaya kepada orang lain.
# Tidak mau menanggung resiko kalau hail pekerjaan anak buahnya tidak memuaskan. ( Ini adalah tipe pemimpin yang “mereknya memang “Leader”, tapi kualitasnya adalah kualitas kuda ­ kualitas seorang pelaksana )
# Tidak mudah menerima sudut pandang orang lain

Seorang pemimpin Rambo adalah seorang Leader yang tidak mau membimbing “kuda-kudanya”, karena faktor-faktor diatas. Ia cenderung menjadi seorang single fighter, walaupun perusahaan sudah mempercayakan “kuda-kuda” dalam team nya. Tipe pemimpin seperti ini adalah tipe pemimpin yang sulit untuk bekerja dalam team.

c. Pemimpin Model Kurir
Gaya kepemimpinan kurir adalah gaya memimpin dengan meneruskan sebuah tugas yang didapatkan kepada bawahannya tanpa menganalisa kemampuan anak buahnya tersebut.

Contohnya, seorang General Manager berikan tugas kepada Manager. Manager mendelegasikan tugas tersebut kepada Supervisor tanpa mengetahui kemampuan dan kesulitan yang mungkin dimiliki Supervisor. Supervisor,mengikuti teladan si Manager, meneruskan tugas tersebut kepada anak buahnya dengan cara yang sama, yaitu tanpa analisa lebih dahulu tentang kemampuan anak buahnya.

Karena bawahan tidak mengerti & tidak mampu, maka tugas tersebut didelegasi ulang ke si Supervisor. Supervisor juga tidak mampu melanjutkan tugas tersebut, dan akhirnya dimuntahkan kembali kepada Manager. Dan karena Manager merasa harus bertanggung jawab, akhirnya dia harus turun langsung mengerjakan perkerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan pekerjanya. Siklus ini terjadi terus menerus dan berulang terus menerus. Ternyata Manager lebih suka bersusah payah mengerjakan pekerjaan orang lain dan menjalankan fungsi kepemimpinan hanya sebatas kurir.

d. “Work Hard Only” vs “Work Hard + Work Smart”
Penjelasan dan contoh-contoh diatas merupakan bukti-bukti yang jelas bahwa banyak pemimpin yang lebih senang kerja keras saja, yaitu lebih senang memposisikan diri jadi kuda serta mengerjakan tugas-tugas yang tidak sanggup diselesaikan oleh bawahannya.

Pemimpin yang cerdas tidak pernah akan mau menjadi “kuda”, karena kelasnya mereka adalah Leader, “Si Pengelola Kuda-Kuda”. Pemimpin yang cerdas tahu persis bahwa tugas mereka adalah mengembangkan dan memberdayakan anggota team sedemikian rupa agar mereka sanggup melaksanakan porsi tugas mereka secara mandiri.

Pemimpin yang cerdas akan memfokuskan dirinya menjalankan fungsi-fungsi Leadership – Management – Communication terhadap seluruh anggota teamnya. Tujuannya adalah apabila anggotanya sehat dan terampil, maka beban serta target si pemimpin akan sanggup dijalankan oleh para anggota teamnya.

Pemimpin yang cerdas akan fokus pada hal-hal yang strategik untuk membangun masa depan untuk teamnya, dan membuka jalan bagi anggota teamnya untuk berjalan ke tujuan. Hal ini baru bisa dilaksanakan apabila tugas-tugas dan beban-beban yang menjadi porsi bawahannya bisa ditanggung oleh mereka dengan efektif.

Apabila Anda ingin didukung oleh anak buah Anda, dukung mereka terlebih dahulu. Bila Anda ingin dibantu oleh anak buah, bantu mereka dulu. Prinsip didalam kepemimpinan adalah “Perlakukan orang lain, sebagaimana saya ingin diperlakukan”

 

JANGAN HITUNG-HITUNGAN

 

Banyak sekali para pemula di dunia kerja yang memiliki paradigma yang salah tentang “seberapa jauh saya harus berkorban?” atau “seberapa banyak yang harus saya berikan pada perusahaan?”

Banyak para profesional dan karyawan yang berpikir,
“Apa yang saya berikan tergantung apa yang saya peroleh”
“Saya akan bekerja tergantung bayaran yang saya terima”
“Kalau atasan dan perusahaan baik terhadap saya, maka saya akan bekerja lebih baik lagi”
Bila kita berpikir seperti ini, maka kita memakai prinsip “Tuai dulu baru menabur”. Bila kita perhatikan dengan cermat, seluruh aspek dalam kehidupan ini berlaku “tabur terlebih dahulu, baru menuai”. Investasi terlebih dahulu, baru nikmati hasilnya.

Prinsip “tuai dulu baru menabur” tidak akan pernah berhasil membuat seseorang sukses didalam hidupnya (jadi bukan hanya karirnya).

Prinsip yang harus dipakai hendaknya adalah “go extra mile“. Beberapa tips mempraktekkan prinsip ini :

1. Bila atasan Anda menyebalkan dan Anda tidak suka dengan sikapnya –> jangan fokus pada perilaku negatifnya. Tetap fokus pada prestasi kerja Anda. Bila Anda berprestasi maka, Anda sebetulnya sudah “menabung keterampilan-keterampilan” yang baru ( akhirnya Anda juga yang diuntungkan )

2. Bila Anda merasa gaji atau kompensasi perusahaan tidak sesuai dengan harapan Anda –> tunjukan terlebih dahulu bahwa Anda punya kualitas “super”, Anda mampu berprestasi dengan mampu menyelesaikan tugas-tugas sesuai permintaan perusahaan. Perlu Anda ingat, bekerja sama dengan menjual jasa , tunjukkan terlebih dahulu kualitas Anda, kemudian “pembeli” ( dalam hal ini perusahaan ) akan menilai prestasi Anda dengan sepantasnya

3. Attitude is everything. Bila Anda diminta satu hari telepon 30 pelanggan, berikan lebih pada perusahaan. Lakukan tidak hanya 30 telepon tetapi 40 telepon ( melakukan lebih dari apa yang diminta ). Tunjukan bahwa Anda mampu mengerjakan sesuatu di luar ekspektasi atasan. Sikap seperti ini, akan dihargai oleh atasan dan perusahaan Anda. Semakin keras Anda “menginvestasi” semakin besar kaulitas prestasi yang akan Anda “tuai” nantinya

4. Bila atasan tidak pernah mendukung atau back up Anda didalam bekerja –> Jangan balas dia dengan sikap bermalas-malasan atau asal-asalan dalam penugasan. Anda akan rugi sendiri! Selain buang-buang waktu, Anda akan kehilangan kesempatan emas untuk mengasah terus kualitas keterampilan Anda. Anda akan kehilangan segala kepercayaan yang perusahaan telah berikan. Siapa yang pada akhirnya dirugikan? Sudah pasti diri Anda!

Kesimpulannya, investasi terlebih dahulu sebanyak-banyaknya prestasi dan perilaku positif Anda. Asah terus menerus keterampilan Anda. Jangan fokus pada berbagai kondisi negatif yang Anda tidak suka, tetapi tetap fokus pada jangka panjang Anda, yaitu kesuksesan. Selamat mencoba .

 

SAATNYA RESIGN

 

Mendapatkan pekerjaan memang bukan pekerjaan yang mudah. Tentu Anda ingat saat harus berburu lowongan pekerjaan, mengirimkan surat lamaran dan CV, deg-degan menghadapi interview sampai akhirnya pekerjaan tersebut akhirnya Anda dapatkan. Namun kenyatan tidak seindah bayangan. Saat dijalani ternyata pekerjaan tersebut tidak memberikan kepuasan dan imbalan yang diinginkan. Malah menguras energi, emosi dengan sedikit atau sama sekali tidak memberikan penghargaan. Saat hal ini terjadi hal yang wajar jika Anda lalu memikirkan untuk pindah kerja.
 
Namun jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk mengundurkan diri. Terkadang masalah yang dihadapi setiap hari adalah konflik yang biasa muncul dalam keseharian dan rutinitas pekerjaan Anda. Nantinya hal tersebut bisa jadi pelajaran yang menempa kematangan karakter Anda. Jika Anda masih memikirkan untuk pindah kerja, telaahlah hal-hal berikut, apakah Anda mengalaminya? Jika iya, berarti Anda sudah saatnya untuk mulai pencarian kerja baru.
 
Perusahaan mengalami downward spiral. Perusahaan kehilangan pelanggan dalam jumlah yang signifikan, lalu ada rumor dan tanda-tanda perusahaan akan ditutup karena mengalami kebangkrutan. Alasan – alasan ini lebih dari kuat bagi Anda untuk mengakhiri hubungan kerja dengan perusahan Anda. Hal ini bukan berarti tidak loyal terhadap perusahaan, tetapi untuk mengantisipasi langkah Anda selanjutnya, seperti menyiapkan diri kembali untuk mencari pekerjaan baru yang prospenya lebih besar.
 
Hubungan yang buruk dengan manager atau atasan. Ada banyak sebab yang membuat hubungan tidak baik terjadi, namun pastikan Anda sudah melakukan sesuatu atau bersikap proaktif untuk memperbaiki hal ini. Jika ternyata hubungan Anda dengan atasan sudah tidak bisa diperbaiki lagi, dengan alasan apapun, akan lebih baik jika Anda mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru. Keadaan seperti ini akan menimbulkan situasi yang tidak kondusif dan tidak nyaman untuk bekerja.
 
Tidak ada penghargaan yang sesuai. Anda sudah bekerja dan berprestasi mencapai bahkan melebihi target. Anda juga loyal dan bersedia mengorbankan waktu dan energi ekstra demi pekerjaan. Anda bersedia untuk belajar hal baru karena tanggung jawab ekstra yang dibebankan kepada Anda. Namun ternyata tidak ada juga peningkatan remunerasi walaupun Anda sudah bekerja cukup lama dan sudah berusaha membicarakannya dengan manajemen. Prestasi Anda seakan tidak dikenali dan atasan maupun manajemen menganggapnya sebagai hal biasa yang sudah sepantasnya dikerjakan. Jika ini terjadi, mulailah memikirkan untuk bekerja di perusahaan lain.
 
Tidak ada perkembangan dalam karir Anda. Bila Anda salah satu dari orang yang senang dengan tantangan, besar kemungkinan Anda akan merasa tidak nyaman untuk bekerja dalam rutinitas. Demikian juga sebaliknya, Anda lebih suka bekerja dalam rutinitas, namun Anda ditempatkan di posisi yang tidak sesuai. Hal ini menutup jalan dan kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kepribadian. Daripada ‘menyeret’ diri untuk berangkat ke kantor setiap hari, depresi dan bosan dengan pekerjaan yang dilakukan sekarang, maka percayalah bahwa tantangan dan tempat baru adalah jawaban yang lebih baik.
 
Perbedaan prinsip dengan kebiasaan dan kebudayan perusahaan. Sebagai contoh: perusahan menerapkan peraturan baru yang mengekang kepercayaan dan prinsip Anda. Atau tidak bersedia mengembangkan sistem dan teknologi sesuai dengan jaman demi efisiensi kerja. Bagaimana Anda bisa berkembang secara pribadi dan professional jika perusahaan mengekang pertumbuhan Anda?
 
Sudah tidak menikmati pekerjaan seperti dulu. Mungkin Anda sudah merasa tidak enjoy lagi dengan pekerjaan, lingkungan yang sudah tidak mendukung Anda lagi, atau mungkin pekerjaan yang overload, semuanya seakan terakumulasi dan membuat Anda sudah tidak sanggup untuk memikirkan pekerjaan lagi, maka sudah saatnya untuk berhenti dari pekerjaan Anda.
 
Tingkat stress Anda ditempat kerja terlalu tinggi. Pekerjaan dan tekanannya membuat hidup Anda tidak nyaman sehingga mempengaruhi fisik dan mental Anda. Anda mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan keluarga dan teman – teman Anda, sering kehilangan kendali akan emosi Anda, kinerja yang menurun, semangat dan energi menjadi hilang, sehingga kreatifitas dan inovasi berkurang dan lain – lain. Jika dibiarkan terlalu lama, tentunya akan melelahkan Anda sendiri, dan berdampak untuk perusahaan juga.
 

JAGA KEKOMPAKAN

Organisasi bisa diumpamakan sebuah melting pot yang mempertemukan beragam karakter dan kepribadian individual menjadi satu dalam sebuah tim besar yang memiliki tujuan yang sama. Seorang pemimpin adalah pengelola dan penjaga yang salah satu tugasnya adalah meminimalisir segala bentuk gesekan atau gangguan yang terjadi antara para anggota timnya oleh karena adanya perbedaan-perbedaan. Satu satu hal penting yang harus menjadi fokus team leader adalah menjaga kekompakan dan kesolidan tim. Tim yang kompak selalu ‘bermain’ lebih cantik, lebih cepat, dan terbukti lebih produktif.

Membentuk suatu tim yang berisi orang-orang hebat lebih mudah dibandingkan dengan membuat mereka agar bisa bekerja sama dengan baik. Dalam sebuah tim kerja yang efektif, keahlian individu bukanlah faktor penentu kesuksesan. Sekalipun Anda punya 10 tenaga ahli dalam tim, tapi jika mereka jalan sendiri-sendiri, kurang koordinasi, serta jarang berkomunikasi, maka tim tersebut hanya terlihat kuat diluar namun berantakan didalam. Inti dari kekuatan sebuah tim adalah unity dan semangat kebersamaan bahwa one for all, all for one.

Kekompakan sebuah tim akan terlihat dari produktivitas kerja, mutu hasil kerja, serta kecepatan kerjanya. Jika sebuah tim terdeteksi mulai tidak mencapai target, proyek-proyeknya banyak yang molor pengerjaannya, sering mengalami konflik intern, dan tidak kooperatif dengan tim lain, mungkin tim tersebut mengalami ‘gesekan’ antar personilnya. Sebagai pemimpin Anda harus segera melakukan pembenahan dan berupaya mengembalikan kekompakan tim agar kinerja mereka menjadi lebih baik. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

Ketahui kelemahan dan kelebihan anak buah. Hal ini penting guna menentukan penugasan dan pembagian kelompok kerja. Idealnya masing-masing anggota tim saling melengkapi satu dengan yang lain sehingga terbentuk keharmonisan dalam melakukan tugas. Sebagai team leader Anda harus yang lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan anak buah sehingga tugas-tugas diserahkan kepada yang ahlinya. Namun, agar pembagian tugas lebih adil dan merata – tidak menumpuk pada satu orang, usahakan Anda melakukan mix and match sehingga anak buah yang kurang begitu ahli dibidang tersebut bisa ikut membantu dan belajar dari yang lebih ahli.

Alokasikan waktu berkumpul bersama tim kerja Anda. Inti dari sebuah tim kerja adalah kebersamaan. Maka, seringlah berkumpul bersama anggota tim, bukan sekedar untuk brainstorming masalah pekerjaan, mendiskusikan rencana serta target tim ke depan atau hal formal lainnya, melainkan hal-hal yang bersifat personal. Tim Anda harus tahu dengan siapa mereka bekerja, tujuannya untuk menciptakan chemistry, membangun kepercayaan, serta mengenal kepribadian masing-masing individu. Semakin saling mengenal, semakin tercipta sebuah ikatan yang erat antara mereka.

Ciptakan suasana keterbukaan dan bangun komunikasi yang efektif. Kesalahpahaman sering menjadi penyebab ketidakkompakan sebuah tim. Keluhan, ketidakpuasan, serta ide-ide yang tidak tersampaikan merupakan bom waktu yang setiap saat bisa meruntuhkan sebuah tim. Maka, buatlah kesepakatan dengan tim Anda untuk selalu membicarakan masalah apapun di dalam tim. Sediakan diri Anda untuk menjadi penengah dan pendengar saat mereka membutuhkan Anda sebagai teman ‘curhat’. Be approachable, sebab terkadang anak buah merasa segan bercerita pada Anda dan memilih team leader lain yang lebih simpatik untuk menumpahkan keluh kesah.

Buatlah peraturan bersama yang mengikat semua anggota tim. Untuk meminimalisir gesekan, buatlah kesepakatan tidak tertulis untuk selalu menjaga konduktivitas kerja dalam tim. Misalnya, jika ada anggota tim yang saling berselisih harus langsung diselesaikan secara internal, dilarang saling membicarakan di belakang, atau dilarang bercerita masalah internal tim ke tim lain. Peraturan ini penting agar masing-masing anggota berkomitmen dan bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan timnya.

Lakukan aktivitas yang dapat memotivasi dan meningkatkan kerjasama tim. Salah satu caranya adalah melakukan outbond/outing yang bertujuan untuk melatih kekompakan tim-tim dalam divisi kerja mereka. Hal ini merupakan stimulus yang bagus, sebab dalam game tersebut terdapat latihan problem solving, kepercayaan, kekompakan, kemandirian, dan tanggung jawab yang sangat berguna untuk diterapkan dalam dunia kerja.

Remember!
Sebagai pemimpin Anda juga merupakan bagian dari team yang Anda pimpin, so terlibatlah di setiap team work Anda.

 KARIR KOK MENTOK

Sebagai seorang karyawan, mungkin Anda sudah paham tentang proses meniti karir. Meniti karir yang sukses dimulai dengan perumusan sebuah tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang nyata, terlihat, terukur dan memungkinkan untuk diraih.

Anda perlu perlengkapan dan strategi yang tepat dalam meniti karier. Perlu keberanian untuk mengambil resiko dan meraih peluang, dan tekad kuat serta ketabahan untuk mencapai target. Anda mungkin sudah merumuskan tujuan, memiliki perlengkapan dan strategi. Namun dalam situasi persaingan seperti saat ini, mengapa rasanya masih sulit meniti karier ?

Meniti Karir

Meniti Karir

PENYEBAB :
1. Belum sesuai dengan bidangnya.

Dalam buku Usaha Yang Cocok Untuk Anda, pendiri Yayasan Bina Karya Mandiri menulis kata pengantar, “Usaha itu ada jodoh-jodohannya” Maksudnya bukan sekedar untung-untungan saja. Takdir memang tidak dapat digugat, tetapi nasib ada ditanga kita. Kesuksesan karir ditentukan oleh kegigihan dalam berusaha dan bekerja. Namun perlu mengenal bakat dan minat yang dimiliki sebagai suatu kekuatan pribadi. Pekerjaan yang tidak sesuai minat biasanya membuat cukup ’menderita’ yang membuat sulit untuk mengembangkan karier atau usaha.

2. Mudah merasa bosan.
Seorang sales yang putus asa karena targetnya belum tercapai, mencoba menjadi karyawan di bidang percetakan. Ternyata rutinitas kerja membuatnya bosan. Lalu ia melamar kerja di perusahaan ekspedisi. Prestasinya cukup bagus, namun sering bertugas di luar kota membuatnya jenuh dan mengundurkan diri. Tanpa sadar ia terus keluar masuk kerja, sementara rekan-rekannya sudah menjadi manajer sales. Sayang sekali, mudah merasa bosan membuatnya sulit meniti karier di satu bidang pekerjaan.

3. Sulit bekerja sama.
Situasi yang sangat kompetitif tentu membutuhkan tim kerja yang solid. Perbedaan latar belakang, karakter dan temperamen cenderung memicu timbulnya sebuah konflik. Kerja sama di dalam tim akan sulit dibangun jika anggota kurang memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing. Akibatnya suasana kerja menjadi tidak kondusif dan sulit mengembangkan karier dengan baik.

Solusi
1. Temukan potensi pribadi.

Ada orang yang memiliki kekuatan ketika berada di lapangan. Ada yang suka mengerjakan tugas-tugas administrasi di belakang meja. Yang lain senang membangun network. Ada pula yang terampil dengan mesin atau komputer. Siapakah Anda ? Apa kekuatan dan kelemahan Anda? Apa minat dan bakat Anda? Jika Anda mampu menjawab pertanyaan ini, Anda akan lebih mudah mengembangkan karier yang tepat.

2. Membuat target secara bertahap.
Seorang Kaisar pada zaman dinasti Song, amat menyukai permainan catur dan ingin memberi hadiah kepada sang penemu. Kaisar akan mengabulkan 1 permintaannya. Si penemu catur meminta sebutir beras. Dengan syarat setiap kali dijumlahkan dengan kelipatan dua pada kotak papan catur berikutnya. Kaisar merasa aneh namun memenuhi permintaan yang dianggapnya mudah. Kotak pertama sebutir beras, kota kedua dua butir beras, kotak ketiga empat butir, dan seterusnya. Papan catur memiliki 64 kotak berwarna hitam putih berselang-seling. Sangat mengejutkan. Setelah dihitung pada kotak ke 64 akan terdapat 18 juta triliun butir beras. Sang Kaisar terdiam dan meminta agar si penemu menukar hadiahnya dengan tanah yang luas di wilayah kerajaan Tiongkok. Demikian pula dalam membuat target untuk pengembangan karier kita. Mulai dengan hal yang sederhana untuk mencapai tujuan yang besar.

3. Belajar membangun relasi.
Sebuah jembatan dibuat untuk menghubungkan dua tempat yang terpisah. Awalnya sulit untuk membangun jembatan, namun ketika sudah selesai, rasanya mudah sekali untuk mondar mandir ke dua tempat tersebut. Membangun relasi mungkin terasa sulit pada awalnya. Terutama bagi mereka yang cenderung perfeksionis dan berorientasi pada tugas. Perlu suatu terobosan pribadi untuk mampu ’bergaul’ dan beradaptasi di lingkungan kita berada. Keterbukaan dan komunikasi yang efektif sangat mendukung proses membangun hubungan. Kinerja dan team work yang positif tentu membantu kesuksesan kita dalam meniti karier. (written by Jakoep Ezra, MBA, CBA)

KATA-KATA BIJAK
Kesuksesan dalam karier diawali dari konsistensi terhadap target tujuan yang didukung oleh pengembangan potensi dan team work yang solid.

 BELAJAR BISNIS DARI KOREA

Belajar dari filosofi orang Korea, kita bisa menemukan banyak hal yang menarik untuk menjalankan bisnis.

Korea adalah salah satu negara yang patut diperhitungkan dalam kancah kejayaan Asia. Bagaimana tidak? Perekonomian pasar bebas Negara Ginseng ini masuk ke dalam peringkat lima besar di seluruh Asia, dan ke-15 yang terbesar di dunia. Tak heran negara ini diperhitungkan sebagai salah satu “Macan Asia”.

Winter in Pulguksa Temple, KoreaWinter in Pulguksa Temple, Korea

Negara yang merupakan tuan rumah dari beberapa raksasa perusahaan konglomerat seperti LG, Samsung, dan Hyundai ini, mempunyai sistem pendidikan yang sangat kompetitif serta mampu mencetak tenaga kerja yang bermotivasi tinggi, dan mempunyai keahlian yang memadai. Semua ini tentu tidak lepas dari etos, budaya, serta kultur kerja dari para pekerjanya.

Dengan adanya perbedaan kultur atau budaya, kultur bisnis Korea bisa menjadi tantangan tersendiri bagi para pebisnis asing. Banyak perusahaan Korea yang masih dipengaruhi oleh kultur Confucianist yang kental. Perusahaan-perusahaan Korea umumnya mempunyai sistem hirarki yang tinggi dan tersentralisasi dengan beberapa orang “inti”, termasuk para manajer yang bisa membuat keputusan besar. Semua deskripsi kerja, otoritas dan hubungan kerja antara atasan dengan bawahan didasari oleh senioritas.

Para pebisnis yang tidak siap dan tidak berpengalaman dengan Confucianism akan menemukan halangan dalam berbisnis di Korea. Walaupun banyak sekali orang Korea mengenyam pendidikan di Barat, norma-norma sosial Confucianism masih sangat dominan dan terlihat jelas di Korea. Orang-orang asing tidak dituntut untuk mematuhi dan menaati norma-norma sosial Korea sepenuhnya. Namun, mereka bisa lebih dihargai bila mau mencurahkan sedikit perhatian dan tenaga untuk belajar beberapa patah kata kunci dalam bahasa Korea dan mengikuti beberapa norma sosialnya.

Pebisnis Korea berharap para pebisnis bisa menepati janji dan tepat waktu dalam menghadiri rapat atau pertemuan bisnis. Tradisi profesional pertama yang biasa dilakukan antara kedua belah pihak dalam meeting adalah saling bertukar kartu nama. Sangatlah penting untuk membangun kepercayaan juga membina hubungan agar proses dan hubungan bisnis dapat berjalan lancar. Tidak seperti di Barat, proses ini memerlukan waktu dan kesabaran. Orang-orang Korea lebih suka berbisnis dengan orang-orang yang sudah mereka kenal. Dari sudut pandang orang Barat, orang Korea dianggap agak “sensitif”. Mereka sangat tidak suka kehilangan muka dan ditempatkan pada posisi yang sulit di hadapan orang lain.

Meeting pertama biasanya dilakukan untuk membangun kepercayaan terlebih dahulu. Jadi, mereka tidak langsung menuju pada inti persoalan bisnis yang ada. Kita harus berlaku formal dalam meeting sampai saat orang atau perwakilan dari Korea mulai menunjukkan sikap santai. Kesuksesan proses bisnis tergantung juga dari eratnya hubungan sosial. Saling berbagi makan malam bisa menjadi salah satu cara untuk membangun hubungan yang bisa mendorong timbulnya kepercayaan. Para pebisnis Korea biasanya adalah negosiator yang tangguh. Mereka mengagumi perusahaan yang mempunyai perwakilan yang mampu bernegosiasi dengan gigih, tetapi tidak terlalu agresif. Isu-isu yang sensitif umumnya dibicarakan kemudian, biasanya sambil proses bisnis berjalan, khususnya jika menyangkut hal-hal yang rumit atau urusan finansial.

Disarankan untuk bisa diperkenalkan melalui pihak kedua daripada menghubungi langsung atau menghubungi secara acak perusahaan-perusahaan Korea yang ada. Untuk bisa bertemu dengan orang kunci, hampir selalu tergantung pada bagaimana cara perkenalan yang dilakukan. Seorang penengah atau perantara yang credible bisa sangat membantu dalam mendapatkan kepercayaan dari para pebisnis Korea. Apalagi, bila perantara tersebut adalah orang yang dihormati. Mereka biasanya memerlukan waktu untuk membuat keputusan karena seringkali hal ini diambil atas persetujuan kolektif. Waktu yang diperlukan untuk pengambilan keputusan juga terkadang lebih lama dari yang diperkirakan.

Jika dilihat dari segi bahasa, tingkat pemahaman bahasa Inggris orang-orang Korea—yang bisa berbahasa Inggris—ternyata tidak sebagus yang diperkirakan. Persepsi dan pemahaman mereka seringkali jauh meleset dari yang sebenarnya dimaksud oleh orang-orang Barat. Perbedaan kultur seringkali menimbulkan halangan yang cukup besar dalam hal berkomunikasi. Biasanya orang Barat berusaha untuk mengulang atau membuat beberapa repetisi agar maksud mereka bisa ditangkap dengan lebih baik. Selain itu, mereka juga biasa saling bertukar catatan tertulis setelah meeting supaya bisa lebih memahami maksud dari kedua belah pihak.

Di Korea, dokumen-dokumen legal tidaklah terlalu penting jika dibandingkan dengan relationship antarindividu. Mereka bahkan tidak terlalu suka kontrak yang terlalu detail atau rumit. Mereka lebih menyukai kontrak yang cukup fleksibel agar bisa melakukan penyesuaian dengan perubahan kondisi yang mungkin akan terjadi. Dengan demikian, lebih penting untuk membangun hubungan yang didasari atas saling percaya dan saling memberikan benefit daripada membuat kontrak yang panjang atau detail. Bagi orang Korea, yang penting bukanlah “apa” isi kontrak tersebut, melainkan “siapa” yang menandatanganinya, dan “mengapa” kontrak itu dibuat.

Hiburan juga memegang peranan penting di Korea dalam hubungan bisnis. Mereka suka berlomba minum dan saling memberikan hadiah kecil. Kini Golf juga menjadi olahraga favorit dan menjadi bentuk hiburan yang diminati. Melalui aktivitas ini, hubungan bisnis bisa menjadi lebih personal. Pengetahuan mengenai keluarga, status, hobi, ulang tahun, pengalaman, sampai pada filosofi pribadi bisa didapat dari kegiatan hiburan atau olahraga. Bahkan, suatu persetujuan yang informal dari pihak yang sudah saling percaya bisa lebih besar pengaruhnya daripada dokumen perjanjian tertulis.

Konsep serta nilai dari budaya Korea pada dasarnya terdiri atas Kibun, Inhwa dan Confucianism. Kata Kibun sendiri tidak punya terjemahan dalam arti sesungguhnya dalam bahasa Inggris. Tetapi, sebagai konsep yang meresapi setiap aspek dari kehidupan orang Korea, kata tersebut bisa didefinisikan sebagai kebanggaan, paras, mood atau cara pandang. Dalam usaha untuk memelihara Kibun, terutama dalam konteks bisnis, seseorang harus menghormati orang lain dan menghindari segala tindakan yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan muka. Di dalam kultur di mana keharmonisan sosial dianggap penting, kemampuan untuk menginterpretasikan pikiran orang lain (sering disebut juga sebagai Nunchi) adalah penting untuk memperlancar urusan bisnis.

Inhwa adalah suatu gambaran dari kepercayaan Confucian. Istilah Inhwa berarti pendekatan Korea kepada keharmonisan. Sebagai suatu masyarakat yang kolektif, pengambilan keputusan secara mufakat sangatlah penting untuk mempertahankan keharmonisan di Korea. Supaya Inhwa bisa berjalan dengan selaras, orang-orang Korea seringkali berusaha menjawab dengan respons yang positif dan enggan untuk menolak secara langsung. Dalam kultur bisnis Korea, hal ini tercermin dalam rasa setia pada perusahaan, kepatuhan, serta perilaku karyawan.

Sedangkan Confucianism merupakan sebuah filosofi yang mampu mempengaruhi begitu banyak orang Korea. Akar budaya Confucianism begitu kuat menancap pada kultur Korea, sehingga meresap ke banyak orang di sana. Filosofi ini membentuk moral, hukum nasional dan gaya hidup secara umum di Korea, mulai dari dalam keluarga sampai pada kehidupan sosial mereka.

Terlepas dari pengaruh negara-negara tetangga, Korea Selatan masih bisa mempertahankan identitas dan ciri khasnya yang jelas dan homogen. Masih terasa juga pengaruh-pengaruh dari kepercayaan-kepercayaan religiusnya. Satu hal lagi, Korea juga mempunyai pemandangan dan landscape yang menakjubkan. Rakyat Korea memegang kebanggaan tinggi akan warisan atau pusaka yang unik, dan juga bahasanya yang terbentuk dari sejarah panjang dan berliku. Sebagai hasilnya, hal tersebut tercermin juga pada kultur dan budaya bekerja atau berbisnisnya.

Perubahan wajah Korea terus berlanjut. Meskipun negara yang dikenal dengan sejarahnya yang cukup pelik ini terbebas dari Jepang pada akhir Perang Dunia kedua, mereka masih harus menghadapi Perang Dingin. Namun, Korea mencetak kemajuan ekonomi yang cukup pesat dan terus berkembang menjadi salah satu yang terbesar di Asia, selain Jepang dan Cina. Peluang bisnis yang berkembang di Korea pun turut meningkatkan minat dan rasa ingin tahu dunia akan pengetahuan kultur serta budayanya. (Majalah Marketing)

KESAN PERTAMA YANG MENGGODA

Yang ingin disampaikan untuk Anda berikut ini adalah sebuah teknik favorit dalam menciptakan kesan pertama yang baik. Sebuah teknik sederhana, namun inilah kunci kesuksesan saya menjadi inspirator hubungan harmonis. Tentu saja teknik ini juga ampuh jika diaplikasikan saat interview kerja.

Pada saat pertama kali saya belajar menjadi seorang penyiar radio profesional, satu pelajaran penting yang diinstruksikan oleh instruktur siaran saat itu adalah TERSENYUMLAH saat bicara.

Menurutnya senyum bisa terdengar. Pendengar akan dengan mudah bisa membedakan mana penyiar yang ramah dan mana penyiar yang tidak ramah atau judes. Seperti kita ketahui, bahwa umumnya orang akan lebih suka pada orang yang ramah dibanding dengan penyiar yang judes. Jika dalam siaran radio saja pendengar bisa membedakan penyiar mana yang ramah atau tidak, apalagi kalau berhadapan langsung bukan?

Pendapat itu semakin dikuatkan lagi setelah saya mendalami Neuro Associative Conditioning System, sebuah teknik penggalian, pengembangan, dan penataan potensi diri. Senyum yang nampaknya sebuah pekerjaan mudah ini ternyata berdampak besar dalam “menaklukan” hati seseorang.

Senyum mampu menciptakan empat hal yang luar biasa:

1. Menimbulkan rasa percaya diri
2. Kebahagiaan
3. Gairah dan semangat
4. Penerimaan yang tulus

Orang yang tersenyum dianggap sebagai orang yang percaya diri karena ketika kita sedang grogi atau tidak yakin dengan diri kita atau sekitar kita, kita cenderung untuk tidak tersenyum. Tersenyum akan menimbulkan kebahagiaan sehingga akan mempertemukan kita kepada orang-orang yang bahagia: Karena kita melihat mereka dengan cara yang positif.

Semangat sangat penting untuk menciptakan kesan yang baik karena semangat itu akan menular kepada orang lain. Dengan tersenyum Anda menunjukan bahwa Anda menyenangi lingkungan Anda berada dan senang bertemu dengan orang yang Anda temui sehingga pada gilirannya dia akan semakin tertarik untuk bertemu Anda.

Pada akhirnya, tersenyum menunjukkan penerimaan yang tulus dan menyebabkan orang lain tahu bahwa Anda mau menerima dia dengan tulus. Pernahkah Anda merasa heran, kenapa anjing begitu dicintai? Karena binatang tersebut menyambut kita dengan penerimaan yang tulus. Apabila Anda memiliki ekor, maka kibaskanlah. Namun karena Anda tidak memiliki ekor, maka tersenyumlah.

 

Smile Please

Smile Please

Kalau pun Anda tak mampu tersenyum semanis Monalisa, mulai saat ini tersenyumlah pada setiap orang yang Anda jumpai. Lalu perhatikan betapa ajaibnya tindakan Anda itu. Pada awalnya membiasakan diri tersenyum itu terasa sulit seperti berenang di agar-agar jeli, namun dengan latihan terus-menerus dijamin Anda akan menjadi pribadi yang menawan dan jangan heran kalau hari-hari Anda akan disibukan oleh penggemar yang ingin foto bareng dan minta tanda tangan. (Sigit Risat)

“Senyuman adalah sebuah lengkungan yang bisa meluruskan setiap pesoalan”

GADIS KECIL DARI PECENONGAN

Kisah ini terjadi di Jalan Pecenongan, Jakarta, saat lima orang pengurus sebuah yayasan makan malam di sebuah warung tenda sehabis rapat.

Begitu duduk, mereka langsung diserbu pedagang asongan. Seorang diantara pengasong itu adalah gadis kecil berusia 10 atau 12 tahun. Ia menjajakan kue. Namun, karena asyik ngobrol, kehadiran para pedagang ini tidak mereka hiraukan.

Saat pesanan tiba, para pedagang itu pun mundur satu persatu. Sebagian mengalihkan dagangannya ke meja lain,dan sisanya beristirahat di pinggir jalan. Namun, gadis kecil ini tetap bertahan. Dengan tabah dan sabar, diiringi sorot mata yang membujuk, dia terus berdiri di samping para tamu yang sedang makan ini.

Tekad gadis ini membuat seorang ibu jatuh iba. Dia membuka dompetnya, mengambil pecahan seribu rupiah, dan menyodorkannya kepada si gadis. Namun gadis ini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tanda menolak. Si ibu menambahnya seribu lagi, namun tetap saja ditolak. Barang kali kurang, demikian batin si ibu. Dia pun menambah hingga menjadi tiga ribu. Aneh, gadis ini tetap menolak.

Sikap gadis ini menarik perhatian semua tamu di meja tersebut. Lalu, seorang bapak berkata dengan nada heran, “Dik, kenapa ditolak?”

“Kata mama, saya tidak boleh mengemis. Katanya, saya harus jualan.”

Jawaban gadis itu menyentakkan perasaan. Mereka takjub dan kagum. Bagaimana mungkin gadis ini menolak pemberian tiga ribu rupiah — yang menurut taksiran, kalau pun dia berhasil menjual semua kuenya untungnya tidak akan sebesar itu — demi sebuah prinsip, pesan ibunya.

Para tamu tersentuh, dan tiada pilihan lain yang cukup beradab: mereka pun membeli semua kue gadis ini seharga Rp. 15.000 rupiah tanpa ditawar. Setelah itu, barulah gadis kecil ini tersenyum lebar, mengucapkan terimakasih, dan meninggalkan mereka dengan ceria.

*****

Kisah ini adalah tentang harga diri, tentang martabat. Mengemis bukanlah pekerjan haram, namun tentu bukan pekerjaan terhormat. Ketegaran gadis kecil penjaja kue yang tidak mau menerima belas kasihan — lebih tepat: uang receh pengusir dirinya — dan bersikukuh menjual dagangannya patut dicontoh. Penampilan luar sering menjadi tanda harkat dan derajat seseorang. Semakin keren atau bermerek penampilan orang, perhatian suka lebih tertuju kepadanya.

Mungkin benar, tampilan luar yang mentereng: busana mahal, perhiasan mengkilap, mobil mewah bisa menjadi tanda bahwa orangnya berasal dari kalangan atas. Namun kalau mentalnya dibedah, boleh jadi cuma mental pengemis yang didapat. Sebaliknya, orang sederhana, bersahaja, sering dipersepsi sebagai kalangan bawah, tetapi bisa jadi rasa hormat diri mereka justru lebih tinggi.

Gadis kecil tadi mengajarkan: kehormatan bukanlah apa yang kita tampilkan ke luar, tetapi apa yang kita pancarkan dari dalam: budi pekerti, prinsip hidup, ketegaran jiwa, dan keterhormatan.

 

7 KEBIASAAN YANG BIKIN KAYA

Sering kali kita berpikir, bagaimana caranya agar kita bisa kaya secara materil dengan waktu cepat, tapi sedikit di antara kita tidak memikirkan arti kaya yang sebenarnya, kebiasaan kita sangat menentukan arah yang akan kita lalui, ini sedikit motivasi buat kita sekalian yang semoga berguna buat yang membacanya:

1. Kebiasaan mengucap syukur

Ini adalah kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik. Bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak saja untuk hal-hal yang baik, tapi juga dalam kesussahan dan hari-hari yang buruk. Ada rahasia besar dibalik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun, telah menjadi orang yang terkenal dan dikagumi di seluruh dunia. Salah satu ucapannya yang banyak memotivasi orang adalah, “Aku bersyukur atas cacat-cacat ini, aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur, namun kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri berkat, kesehatan, keluarga, sahabat, dan sebagainya. Lama kelamaan Anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.

2. Kebiasaan berpikir positif

Hidup kita dibentuk oleh apa yang paling sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yang yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang, harapan dan suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang Anda pikirkan. Kalau Anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera ke arah yang positif. Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif yang akan Anda alami.

3. Kebiasaan berempati

Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses. Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain. Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya dan menangkap motif di balik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan sikap egois, yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain. Meskipun tidak semua orang mudah berempati, namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain, belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, dan sebagainya.

4. Kebiasaan mendahulukan yang penting

Pikirkanlah apa saja yang paling penting, dan dahulukanlah. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif dan meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.

5. Kebiasaan bertindak

Bila Anda sudah mempunyai pengetahuan, sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yang harus dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah bertindak. Biasakan untuk mengahargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif. Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.

6. Kebiasaan menabur benih

Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur. Bayangkanlah, betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.

7. Kebiasaan hidup jujur

Tanpa kejujuran, kita tidak bisa menjadi pribadi yang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendiri tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran, meskipun mengandung resiko. Bila Anda berbohong, kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sedikit.

One Response to “Tulisan Motivasi (2)”

  1. uus Says:

    ijin share, ya. motivasinya mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: