Tulisan Motivasi (4)

KEHADIRAN JAUH LEBIH BERHARGA

Glenn van Ekeren

Pada suatu masa, tanah Persia pernah diperintah oleh seorang syech yang bijaksana dan sangat dicintai rakyatnya. Syech ini peduli sekali kepada rakyatnya dan keinginannya hanya berbuat yang terbaik bagi mereka. Rakyat Persia tahu bahwa syech mereka mau menangani masalah-masalah mereka secara pribadi dan memahami pengaruh keputusan-keputusannya bagi hidup mereka. Secara berkala ia menyamar dan berkeliling ke jalan-jalan, mencoba menyaksikan hidup melalui cara pandang mereka.

Pada suatu hari ia menyamar sebagai seorang desa yang miskin lalu pergi ke tempat permandian umum. Di sana banyak orang yang sedang menikmati saat-saat santai sambil bersosialisasi. Air di permandian itu dihangatkan dengan api dari sebuah tungku di gudang bawah tanah, dan di situ ada seorang laki-laki yang bertanggung jawab mengusahakan agar tingkat kehangatan air di permandian tetap nyaman. Syech itu sengaja pergi ke ruang bawah tanah untuk menjenguk lelaki yang tanpa kenal lelah menunggui api.
Kedua orang itu makan bersama dan syech berhasil menjalin persahabatan dengan lelaki yang kesepian itu. Hampir setiap hari, sampai berminggu-minggu, penguasa negeri itu berkunjung ke tempat kerja sang penunggu api. Dalam waktu singkat sang penunggu api itu menjadi terbiasa dengan tamunya karena seringnya ia datang ke situ. Belum pernah ada orang lain yang menunjukkan perhatian atau kepedulian semacam itu kepadanya.

Pada suatu hari sang syech menyingkapkan jati dirinya yang sebenarnya. Ini sebuah langkah yang berresiko, sebab ia takut orang tadi akan meminta hadiah atau pemberian istimewa darinya. Namun, di luar dugaan, teman baru sang pemimpin itu hanya memandang ke dalam matanya sambil berkata, “Yang Mulia bersedia meninggalkan kenyamanan istana dan kemuliaan Yang Mulia untuk duduk menemani saya di ruangan gelap seperti penjara bawah tanah ini. Yang Mulia bersedia makan makanan saya yang tidak lezat dan dengan tulus menunjukkan kepedulian atas hidup yang saya jalani. Kepada orang lain Yang Mulia mungkin telah menganugerahkan uang atau barang berharga, tetapi kepada saya Yang Mulia telah memberikan yang terbaik. Yang Mulia telah memberikan diri Yang Mulia sendiri.”

MENITI KARIR (Bag. Akhir)

Pertanyaan #4–Jawablah secara jujur, apakah anda lebih memusatkan perhatian pada apa yang ingin anda raih, atau mempersiapkan diri bila kesempatan itu tiba?

Tantangan kerja yang dinamis hanya menghampiri mereka yang siap atau setidaknya mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan itu sendiri. Kedudukan takkan menghampiri mereka yang mengharapkan, namun yang mempersiapkan diri untuk menjabatnya. Dengan demikian sebenarnya, pangkat, jabatan, fasilitas, kekuasaan dan lain berbagai iming-iming yang diterima dalam dunia kerja bukanlah tujuan yang semestinya, namun sebuah konsekuensi dari apa yang ada dalam diri kita.

Pertanyaan #5–Apa yang sesungguhnya anda cari dari karier anda? Apa yang dicari oleh mereka yang bekerja dan meniti karier sebaik-baiknya? Uang? Jabatan? Kekuasaan?

Ada seorang guru TK yang lebih suka menjadi guru dan mengajar anak-anak kecil di sekolah, meski ia berkesempatan menjabat menjadi seorang kepala sekolah, atau bahkan penilik sekolah yang tentu memberikan penghasilan dan kekuasaan yang lebih besar. Apa yang dicarinya? Tak lain tak bukan adalah kepuasan hati yang ditemukan dari pekerjaannya. Karier adalah bagian kehidupan kita. Apa yang kita cari dalam kehidupan pada umumnya, juga kita cari dalam kehidupan kerja kita. Kebahagiaan yang kita cari dalam kehidupan semestinya turut melandasi semangat penitian karier kita. Karier terbaik adalah kerja yang memberikan kebahagiaan sehingga kita senantiasa penuh dengan kesukaan dan cinta kasih. Merencanakan karier adalah menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi kita menemukan kebahagiaan dalam kerja kita.

 MENITI KARIR (Bag.2)

 

Pertanyaan #2–Setujukah anda dengan pernyataan, “karier adalah jabatan”? Adakah alternatif lain?Apakah karier adalah pangkat dan jabatan?

Kiranya agak terlalu naif untuk mengiyakannya begitu saja. Dalam kenyataan ada banyak orang yang bekerja dan meraih banyak kemajuan, namun tidak disertai dengan kenaikan jabatan. Ambil contoh, ada seorang kasir yang telah belasan tahun bekerja tanpa pernah sekali pun mendapat kenaikan pangkat. Mungkin orang lain menganggapnya telah “mentok”. Bukankah semestinya ia telah menjabat sebagai kepala kasir, atau kepala keuangan, atau mungkin manajer keuangan.

Namun, ia sendiri memandang kariernya berjalan cukup baik. Mengapa demikian? Karena ia menemukan dirinya berkembang. Bila pada awal ia bekerja hanya mampu menangani kas kecil, kini ia dipercaya mengelola rekening bank, perencanaan kas dan berbagai transaksi keuangan lainnya. Ini adalah sebuah perjalanan karier yang horisontal, yang ditandai dengan berkembangnya kemampuan seseorang dalam menangani tugas-tugas. Bertambahnya pengetahuan, ketrampilan, dan kepercayaan adalah tonggak-tonggak untuk menandai kemajuan karier seseorang.

Pertanyaan #3–Apa yang anda rencanakan saat anda merencanakan karier? Benarkah anda bisa merencanakan untuk diujudkan? Bagaimana seseorang merencanakan karier?

Apakah dengan menyusun semacam peta yang berisikan anak tangga kedudukan yang harus dilalui beserta periode waktu yang harus ditempuh. Misal, dalam tiga tahun sudah harus bekerja di bidang ini, dengan jabatan itu. Kemudian, lima tahun berikutnya sudah harus mendapatkan promosi menjadi ini dengan wewenang itu. Benarkah demikian? Tampaknya penuh dengan ambisi. Sayangnya lebih banyak orang berhasil yang tak membayangkan kesuksesan yang kelak diraihnya. Mereka cenderung lebih suka memusatkan perhatian untuk menyelesaikan tugas-tugasnya saat ini dengan sebaik-baiknya.

Bersibuk-sibuk dengan tujuan “karier” membuat banyak orang silap dengan apa yang semestinya dikerjakan sekarang. Perencanaan karier bukan merencanakan akan jadi apa kita kelak, melainkan mempersiapkan diri dengan bekal pengetahuan, ketrampilan, dan kepribadian yang diperlukan untuk menghadapi tantangan pekerjaan. Dengan demikian, di saat kesempatan itu tiba kita telah siap untuk menghadapinya. Karier adalah jalan dimana kita memupuk terus kemampuan kita sehingga mencapai keunggulan kerja.

TIPS MENINGKATKAN GAIRAH KERJA

Harus diakui kita memiliki siklus gairah kerja. Saat kita menerima pekerjaan baru yang penuh tantangan, gairah kerja serasa melonjak. Namun, ketika rasa bosan mulai datang, gairah kerja turun perlahan-lahan. Bila hal ini tidak diatasi, maka gairah kerja kita meluncur deras sehingga tanpa sadar kita kehilangannya. Adalah hal yang positif bila kita bisa mengetahui bahwa gairah kerja kita berada di siklus menurun. Anda perlu memompakan semangat baru agar kembali naik, atau setidaknya tidak melorot terus. Berikut, tips untuk memacu gairah kerja yang sedang loyo.

–Tingkatkan kebugaran tubuh.

Seringkali gairah kerja menurun seiring dengan buruknya kebugaran tubuh. Berolahragalah. Lebih baik lagi melakukan permainan olahraga bersama rekan-rekan. Istirahatlah yang cukup. Dan perhatikan pola makan anda.Pastikan anda berangkat ke tempat kerja dalam kondisi bugar dan ceria.

–Pelajari ketrampilan baru.

Rasa bosan dan tak bergairah biasanya dikarenakan buntunya daya kreativitas anda. Pelajarilah ketrampilan dan pengetahuan baru. Temukan minat-minat yang membuat daya hidup anda terang kembali. Begitu daya hidup anda menyala, kreativitas dan gairah kerja pun muncul.

–Bergeraklah lebih cepat.

Melangkahlah lebih cepat. Jangan gunakan elevator. Biarkan otot dan tulang seluruh tubuh anda bergerak. Lakukan segala sesuatunya lebih cepat, tangkas dan lincah.

–Perbarui rasa humor anda.

Carilah kesegaran batin anda dengan humor. Tertawa terbahak-bahak dapat melepaskan ketegangan.

–Bergaulah dengan orang-orang yang bersemangat tinggi.

Carilah inspirasi dari mereka yang memiliki gairah tinggi. Bila anda berdiri dekat api, anda akan merasakan hangatnya. Jangan biarkan rasa malas anda tumbuh subur. Menjauhlah dari para pengeluh dan pesimis.

–Ingatlah integritas anda adalah segala-galanya

Anda tentu tak mau dicap sebagai pemalas, loyo dan tak bertenaga. Integritas adalah motivasi internal yang paling ampuh untuk memacu gairah kerja anda. Bila anda mampu menumbuhkan kebutuhan akan integritas pribadi yang tinggi, maka seluruh hal di atas dapat anda atasi dengan mudah. 

 

TIPS MENGINGAT NAMA SESEORANG

Sebagian orang memiliki kelemahan dalam mengingat nama orang, terutama orang yang baru dikenalnya. Menyebut nama dengan benar adalah pintu pembuka hubungan yang lebih baik. Setiap orang senang bila namanya dikenal dan diucapkan dengan benar. Selain itu betapa rikuknya bila kita bercakap-cakap dengan seseorang yang kita tidak mampu mengingat namanya dengan baik. Mau bertanya, tidak berani. Khawatir dianggap tidak sopan. Oleh karena itu ada baiknya kita melatih diri mengingat nama orang yang baru kita kenal.

–Saat berkenalan dengarkan namanya baik-baik.
Berkenalan bukan hanya berjabat tangan erat dan tersenyum ramah. Atau berbasa-basi sejenak. Simaklah baik-baik namanya.. Orang merasa dihargai bila anda berusaha mengenal dan mengingat namanya.

–Bila perlu, ulangi menyebutkan namanya dengan lengkap.
Ini untuk membantu anda memusatkan perhatian pada nama orang itu dengan benar.

–Bacalah dalam hati berulang-ulang kartu namanya.
Kartu nama adalah sarana terbaik untuk mengingat nama seseorang. Letakkan kartu nama orang itu di hadapan anda selama pertemuan, dan bacalah berulang-ulang dalam hati. Ini akan menancapkan ingatan yang lebih kuat pada benak anda.

–Perhatikan wajah orang itu dan kenali ciri-ciri yang khas
Bantulah ingatan anda dengan mengenali wajah serta ciri-ciri khas yang mengingatkan anda padanya. Seperti, tahi lalat, bentuk hidung, senyumnya, dan lain-lain.

–Hubungkan nama orang dengan obyek tertentu yang mudah diingat
Banyak nama berhubungan dengan obyek tertentu. Misal, nama bulan, tempat, kejadian, orang terkenal, dan lain sebagainya.

–Sebutkan namanya selama pertemuan
Tataplah orang itu dan sebutlah namanya berulang-ulang selama pertemuan. Tak beberapa lama, anda akan menyadari bahwa anda bisa menyebutkan namanya dengan benar kemudian mengingatnya.

–Tutuplah pertemuan dengan menyebut namanya
Untuk menguatkan ingatan anda selepas pertemuan, maka akhiri pertemuan dengan menyapa namanya.

 

 BOLA MASUK KE KANTONG KERTAS

Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar.

Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis di dekat lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.

Smiley…! Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.

 
 

CERMIN RETAK PENGKRITIK

Kritiklah terus orang lain. Cari dan temukan kesalahan mereka. Meski mereka melakukan keberhasilan, pasti ada banyak bopeng-bopeng yang menarik untuk diungkapkan. Tunjukkan pada orang banyak, bahwa anda mempunyai tatapan setajam elang untuk menemukan kelemahan orang lain. Dengan demikian anda bisa meletakkan diri setingkat lebih tinggi dari mereka. Lalu, temukan apa yang terjadi pada diri anda.

Ya! Kini anda menjadi cermin yang memantulkan bayangan kelabu dari siapa pun yang anda jumpai. Maka, jangan risau bila takkan ada orang yang berkenan berdiri di hadapan anda. Bukan karena mereka tak mau jujur melihat bayangannya sendiri, namun tak seorang pun suka melihat bayangan yang terpantul dari cermin yang retak. Bila anda terus-menerus mengkritik orang lain, anda menunjukkan keretakan yang ada pada diri sendiri. Tak ada tempat yang pantas bagi pecahan cermin, selain dipendam dalam-dalam agar tak melukai telapak kaki yang berderap melangkah maju.

 
 

MENCURI DIRI SENDIRI

Zig Ziglar, See You at the Top

Peristiwa ini terjadi di sebuah toko makanan kecil pada tahun 1887. Seorang pria yang tampak terkemuka berumur lebih kurang 60 tahun membeli lobak hijau. Dia menyerahkan kepada pelayan selembar uang dua puluh dolar dan menunggu kembaliannya. Pelayan toko menerima uang dan memasukkannya ke laci sementara dia mengambil kembalian. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat ada bercak tinta pada jarinya yang masih banyak karena memegang lobak hijau. Apakah uang tadi adalah uang palsu? Dia berpikir sejenak untuk memutuskan apa yang akan dilakukannya. Setelah sesaat bergulat dengan masalah itu, dia membuat keputusan. Pembeli itu adalah Emmanuel Ninger, teman lama, tetangga, dan pelanggan. Tentunya orang ini tidak akan memberinya uang palsu. Dia pun memberikan kembalian dan pembeli tersebut pun pergi.

Tetapi, si pelayan toko berpikir kembali karena uang dua puluh dolar merupakan jumlah yang sangat besar pada tahun 1887. Dia lalu memanggil polisi. Seorang polisi merasa yakin bahwa uang dua puluh dolar itu asli. Polisi lainnya kebingungan tentang tinta yang terhapus. Akhirnya, rasa ingin tahu yang dipadukan dengan tanggung jawab memaksa mereka untuk meminta surat penggeledahan atas rumah Ninger. Di rumah tersebut, di loteng, mereka menemukan fasilitas untuk mencetak uang lembaran dua puluh dolar. Bahkan mereka menemukan lembaran uang dua puluh dolar yang masih dalam proses pencetakan. Mereka juga menemukan tiga potret diri yang dilukis oleh Ninger.

Ninger adalah seorang pelukis, dan pelukis yang ahli. Dia begitu ahli, sehingga dia melukis lembaran dua puluh dolar dengan tangan! Dengan teliti, goresan demi goresan, dia menggunakan sentuhan keahliannya sedemikian cermat sehingga dia bisa membodohi setiap orang sampai hari itu.

Setelah dia ditangkap, potret dirinya dijual dalam sebuah lelang umum dan terjual seharga $16.000, berarti lebih dari $5.000 per lukisan. Ironi dari kisah ini adalah bahwa Emmanuel Ninger menghabiskan waktu yang tepat sama untuk melukis uang dua puluh dolar seperti yang dilakukannya untuk melukis potret diri seharga $5.000.

Ya, orang cemerlang yang berbakat ini menjadi pencuri dalam segenap arti katanya. Tragisnya, orang yang paling banyak dicuri adalah Emmanuel Ninger sendiri. Bukan hanya dia seharusnya menjadi orang kaya secara sah bila dia memasarkan kemampuannya, tetapi seharusnya dia bisa membeli begitu banyak kesenangan dan begitu banyak keuntungan bagi sesamanya. Dia termasuk dalam daftar pencuri yang tidak ada habis-habisnya mencuri dirinya sendiri ketika mereka berusaha mencuri dari orang lain.

Apakah kita adalah “Emmanuel Ninger” yang lain, yang memanfaatkan bakat, ketrampilan, dan diri kita hanya untuk menghasilkan $20, padahal sebenarnya kita bisa menghasilkan $5.000?

 
 

SEBUAH OLIMPIADE YANG ISTIMEWA

 

Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle. Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan. Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.

Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu.

Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, “Semoga ini membuatmu merasa lebih baik.” Kemudian kesembilan pelari itu saling bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.

Seluruh penonton yang ada di stadion itu berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada di sana saat itu masih saja tak bosan-bosannya meneruskan kejadian ini. Tahukah anda mengapa? Karena di dalam diri kita yang terdalam kita tahu bahwa: dalam hidup ini tak ada yang jauh lebih Berharga daripada kemenangan bagi kita semua. Yang terpenting dalam hidup ini adalah saling tolong menolong meraih kemenangan, meski kita harus mengalah dan mengubah diri kita sendiri.

 
 

MAKAN SAJA DULU ITU SEMUA

Setelah melalui perjalan yang berat dan melelahkan karena harus melewati tiga bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah kyai. Kyai menanyakan maksud kedatangannya.

Petani: “Saya ingin bertanya, apakah kepiting kali itu halal atau haram?”
Kyai: “Sebelum menjawab itu, saya ingin bertanya terlebih dulu, apakah kamu punya empang?”
Petani: “Punya, Kyai.”
Kyai: “Apakah di empangmu dipelihara macam-macam ikan, seperti mujair, tawes, mas, nila, gurami?”
Petani: “Iya , Kyai.”
Kyai: “Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini?”
Petani: “Iya, Kyai.”
Kyai: “Nah, kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting kali. Bukankah ayam, itik, ikan itupun mungkin tak habis kamu makan, jangan kau susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting kali.”

Smiley…! Angan-angan menjauhkan kita dari hidup yang sekarang. Bukan persoalan apakah telur atau ayam yang lebih dahulu diciptakan, namun apakah kita bisa memanfaatkan apa yang ada di tangan kita sekarang. Sebutir telur yang nyata-nyata berada dalam genggaman jauh lebih berharga ketimbang seekor ayam di angan-angan.

 
 

KEKUASAAN ADALAH TANGGUNGJAWAB

Mereka yang ceroboh menganggap kekuasaan adalah hak bagi setiap orang. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba mendapatkan dan mendekapnya erat-erat. Bila perlu menumbuhkannya jadi sebuah pohon besar yang dipenuhi mitos dan cerita seram penuh kegentaran. Maka tak usah heran, ketika sekelompok orang ceroboh bertemu, tak lain yang mereka ributkan hanyalah membagi ini dan itu. Semata-mata demi sejumput tanah tempat tumbuh semak belukar. Kekuasaan akan jadi mahkota duri yang akan melukai pelipisnya sendiri.

Sedangkan bagi mereka yang bijak, kekuasaan adalah kata lain dari wajah tanggung jawab. Tak ada tempat lain untuk meletakkannya selain di pundak. Bukan di genggaman. Bukan pula di kepalan. Ia harus dimintai keterangan: untuk apa dan bagaimana ia diperankan. Karenanya, kekuasaan tunduk pada kepada siapa yang memberikan, bukan kepada siapa ia diberikan. Mereka yang bijak memikul kekuasaan dengan takjim. Sekali lancung, tak ada yang perlu lagi dipercayakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: